.
"Saya hanya bisa doa dalam bahasa Jawa?", suara mbah Yitno memecah keheningan diantara kami.
.
Sore itu, saya membelah setengah Kabupaten Sleman unt...
.
"Saya hanya bisa doa dalam bahasa Jawa?", suara mbah Yitno memecah keheningan diantara kami.
.
Sore itu, saya membelah setengah Kabupaten Sleman untuk bisa sampai di tempat itu. Hujan angin yang menerpa tak lagi saya hiraukan karena buru-buru ingin sampai sesuai janji.
.
Mbah Yitno, lelaki berusia 70an itu, yang pertama menyambut saya dalam pandangan penuh kehangatan.
.
Beliau adalah tetua di dusun Cepit. Sebutan yang hanya disematkan pada seseorang yang dianggap mampu "membaca" pertanda alam.
.
Kami duduk 500 meter di belakang Candi, tanah tempat kami berdiri dulunya ladang tebu, yang saat ini disulap menjadi Pasar Banyunibo.
.
Pandangan mata saya jatuh pada pundaknya yang melengkung karena usia tua. Jatuh pula pada lengkungan puncak Candi Banyunibo.
.
Doa-doa dirapalkan mbah Yitno pada sore yang mendung itu. Matanya memejam, berbisik pada sesuatu yang "hidup" di dusun itu.
.
Tapi ingatan, mengajak saya menelusuri sisi kehidupan yang lain. Ingatan pada ritual Puja Bhakti yang pernah saya ikuti di Candi ini.
.
"Candi ini milik para Dewi", sebuah awal percakapan membuat jiwa pengelana saya tersentak. Biksu itu telah menghabiskan sebagian hidupnya di Tibet, sebelum Takdir mempertemukan kami di tanah Jawa dalam ritual ziarah.
.
Saya menemaninya pradaksina dalam jumlah ganjil, memanggil semua ingatan masa lalu, membaca kembali simbol Dewi Tara dalam setiap sudut Candi Banyunibo.
.
Dewi Tara, Ibu Pertiwi sekaligus Gaia. Ibu dari semua Ibu. Pemilik kekuatan terbesar dalam hidup: Kelahiran. Penjaga keberlangsungan Alam Semesta. Pemangku keseimbangan.
.
Dulu, ada tiga arca utama: Sang Budha, dan 2 Bodhisatva di kanan kirinya. "Dulu, hanya orang tertentu yang bisa sembahyang di sini", bisik itu melekat erat di ingatan.
.
Angin berhembus kencang, aroma kembang dan menyan memenuhi atmosfer. Rapalan doa-doa mbah Yitno semakin cepat, secepat ingatan saya yang berpacu dengan masa lalu.
.
"Suatu hari kau harus pergi ke Tibet, agar kau tahu kenapa tempat ini sangat Dewi Tara sekali, P", sebuah salam perpisahan diucapkan antara kami.
.
Kemarin, diantara rapalan doa-doa mbah Yitno, ingatan saya berkelindan pada gumam Paritta Suci dalam Puja Bhakti.
.
Om Tare Tuttare Ture Soha.
paritta 在 コバにゃんチャンネル Youtube 的最讚貼文
paritta 在 大象中醫 Youtube 的最佳解答
paritta 在 大象中醫 Youtube 的最佳貼文